Sudah hampir 2 bulan kabut asap yang terjadi di daerah Riau dan Jambi akibat kebakaran hutan dan selama itu pula cuaca di bumi ranah minang terjadi pencemaran udara. Khususnya di Padang kabut asap juga melanda daerah ini, akibatnya sudah banyak penyakit pernapasan yang dialami masyarakat setempat. namun belum ada upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam mengatasi musibah ini. Seharusnya ini menjadikan pelajaran bagi Kepala Daerah untuk lebih memperhatikan kepentingan umum dibidang kesehatan. Selaku ibu kota Provinsi Sumatera Barat Padang harus memberikan contoh yang baik dalam mengatasi masalah kabut asap serta tindakan-tindakan cepat, peduli dalam menangani masalah ini.
Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah menyatakan kabut asap yang menyelimuti daerah itu sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
"Kita sudah menurunkan tim untuk mengukur kualitas udara di Kota Padang dan mendapatkan hasil terbaru, yaitu 209,36 g/nm3," kata Mahyeldi didampingi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) Padang Edi Hasymi di Padang, Sumatera Barat, Kamis.
Ia menjelaskan, hasil tersebut jauh meningkat dari hasil uji kualitas udara sebelumnya yang hanya 81,73 g/nm3. Hal tersebut sangat mengkhawatirkan, karena batas baku mutu (normal) adalah 150 g/nm3.Untuk itu, masyarakat diimbau untuk mengurangi kegiatan di luar rumah dan memakai masker saat keluar rumah, karena kabut asap dapat mengganggu pernafasan."Karena ini adalah kabut asap kiriman, jadi cara terbaik dilakukan saat ini adalah mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi pada warga," katanya menjelaskan.Hanya tindakan dan imbauan seperti itu yang dilakukan oleh Pemkot Padang sejauh ini.
No comments:
Post a Comment